Permainan Layang-layang

...Kuambil buluh sebatang, kupotong sama panjang...
...Kuraut dan kutimbang dengan benang, kujadikan layang-layang...
   Hehehe... Sepenggal bait lagu di atas kusenandungkan sambil menulis blog ini. Kali ini judulnya adalah "Permainan Tradisional Layang-layang". Sungguh ada suatu kerinduan yang teramat sangat jika sudah menyinggung tentang permainan yang satu ini. Betapa tidak, dulu semasa masih duduk di bangku SD, SMP, bahkan ketika udah memasuki masa pendidikan di jenjang SMA, permainan ini sering aku mainkan. Hahaha... malah terakhir kali main layangan sekitar tahun 2010 yang lalu, bukan karena apa-apa, tapi memang semata-mata karena kerinduan akan masa kecilku yang acapkali memainkan permainan yang satu ini. Hihihi..., klo diingat lucu juga masa-masa kecil dulu, klo udah main layangan, pastilah jadi lupa waktu, lupa makan, lupa segala-galanya. Kulit jadi item karena sering berjemur di luar rumah, pulang-pulang sering kena marah nyokap karena kulit berubah jadi rada gelap, hahaha...
   Ehm, kita mulai aja penjelasan tentang layang-layang tersebut. Layang-layang, atau layangan, atau wau (biasa disebut demikian di sebagian wilayah Semenanjung Malaysia) merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan dihubungkan dengan benang atau tali ke daratan atau ke pemain. Layang-layang adalah permainan yang murni memanfaatkan kekuatan hembusan angin sebagai alat pengangkatnya. Layang-layang sangat dikenal luas di seluruh belahan dunia sebagai alat permainan. Selain itu, layang-layang diketahui juga memiliki fungsi ritual, alat bantu untuk memancing atau menjerat, dan bisa juga menjadi alat bantu penelitian ilmiah.
   Terdapat berbagai jenis tipe layang-layang permainan, dan yang paling umum adalah : 
- Layang-layang biasa/layang-layang aduan (laga). 
- Layang-layang hias/kontes. 
   Nah, untuk jenis yang pertama (layang-layang biasa/layang-layang aduan), layang-layang yang digunakan biasanya adalah jenis layang-layang biasa. Kenapa begitu...? ya iyalah, khan namanya juga untuk diadu, jadi yang digunakan layang-layang biasa, karena ntar klo putus pas diadu, si pemain tidak mengalami kerugian besar. Nah, untuk layang-layang biasa ini, umumnya adalah layang-layang standar yang sering dijual di warung-warung dekat rumah. Biasanya dibuat dari kertas minyak, atau kertas cina. Klo zaman sekarang malah banyak dibuat dari plastik bekas belanjaan. Oh ya, untuk memainkan layang-layang aduan, biasanya si pemain juga harus menggunakan benang khusus atau yang biasa disebut benang gelasan (kalo gak mo kalah siiihhh... jangan ngarep menang kalo pake benang jahit nyokap di rumah... hehehe...).
Benang gelasan yang digunakan dalam permainan layang-layang aduan

Layang-layang bentuk biasa/standar
   Kalo layang-layang hias lain lagi ceritanya. Layang-layang ini umumnya beraneka warna, dan tidak jarang dihiasi oleh ekor yang panjang, atau di Pekanbaru biasa dikenal dengan sebutan Layang-layang Darek
 
Layang-layang hias ekor panjang atau populer di Pekanbaru dengan nama Layang-layang Darek

Sering pula ditemukan layang-layang yang diberi bekas pita kaset yang dapat mengeluarkan suara karena hembusan angin, atau kami biasa menyebutnya dengan nama Layang-layang Dengung. Layang-layang jenis ini sangat unik, karena ketika dimainkan, layang-layang ini akan diam tenang, tetapi mengeluarkan suara dengungan yang cukup kuat, dan disitulah letak keunikannya.
Layang-layang dengung
   Pada masa sekarang, bentuk layang-layang semakin variatif dan unik, begitu pula dengan bahan pembuatnya. Bentuk layang-layang di masa sekarang semakin bermacam-macam. Ada yang berbentuk seperti ikan, ada yang berbentuk seperti pesawat terbang, berbentuk boneka dan lain sebagainya. Bahan pembuatnya juga semakin bermacam macam, tidak hanya terbuat dari kertas minyak atau plastik, ada juga yang terbuat dari kain parasut yang berbobot sangat ringan, dengan tulangan yang terbuat dari serat karbon.
   Tidak jarang di beberapa negara atau daerah di Indonesia, sering diadakan kontes layang-layang. Banyak yang hadir dalam perhelatan tersebut. Beraneka warna dan bentuk layang-layang yang ikut di dalam acara tersebut. Umumnya, hal yang dinilai dan menjadi faktor penentu kemenangan adalah keindahan dari layang-layang itu sendiri, ditambah beberapa faktor penunjang lain diantaranya pola terbang layang-layang di udara, apakah pola terbang layang-layang itu unik atau tidak.
Festival layang-layang yang melibatkan layang-layang unik
   Di beberapa daerah di nusantara, layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu, kemudian diikat dengan serat rotan. Layang-layang semacam ini masih dapat dijumpai di Sulawesi. Diduga beberapa bentuk layang-layang tradisional asal Bali berkembang dari layang-layang daun karena bentuk ovalnya yang menyerupai daun.
   Di Jawa barat, Lampung, dan beberapa tempat lain di Indonesia, layang-layang digunakan sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis anggrek tertentu dan dihubungkan dengan mata kail. Di Pangandaran dan beberapa tempat lain misalnya, layang-layang dipasangi jerat untuk menangkap kalong atau kelelawar.
   Penggunaan layang-layang sebagai alat bantu penelitian cuaca telah dikenal sejak abad ke-18. Contoh yang paling terkenal adalah ketika Benjamin Franklin menggunakan layang-layang yang terhubung dengan kunci untuk membuktikan bahwa petir membawa muatan listrik.
    Layang-layang raksasa dari bahan sintetis sekarang telah dicoba menjadi alat untuk menghemat penggunaan bahan bakar kapal pengangkut. Pada saat angin berhembus kencang, kapal akan membentangkan layar raksasa seperti layang-layang yang akan menarik kapal sehingga menghemat penggunaan bahan bakar.
   Catatan pertama yang menyebutkan permainan layang-layang adalah dokumen dari Cina sekitar 2500 Sebelum Masehi. Penemuan sebuah lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21 yang memberikan kesan orang bermain layang-layang menimbulkan spekulasi mengenai tradisi yang berumur lebih dari itu di kawasan Nusantara. Diduga terjadi perkembangan yang saling bebas antara tradisi di Cina dan di Nusantara karena di Nusantara banyak ditemukan bentuk-bentuk primitif layang-layang yang terbuat dari daun-daunan.