Permainan Ular Naga

...Ular naga panjangnya bukan kepalang,
berjalan-jalan selalu kian kemari.
Umpan yang lezat itulah yang dicari,
inilah dia yang paling belakang...
     Hahaha... Liatin Andra ama temen-temennya main di pagi hari Minggu waktu itu bikin saya senyum-senyum sendiri. Pagi itu di halaman rumah saya, mereka sedang maenin "Permainan Ular Naga", permainan yang waktu saya kecil dulu sering saya maenin ama temen-temen. Seruuu... Dulu biasanya kami maeninnya di teras rumah, di pagi hari atau sore hari selepas mandi. Kami semua tertawa, dan kami semua gembira. Ahhhaaayyy, jadi linduuu dengan masa-masa itu, linduuu bangeeettt... Hiksss hiksss... Ahhh ngalay dikit ahhh, hahaha...LOL. Emang jujur saya kangen banget dengan masa-masa kecil dulu, masa tanpa beban bisa tertawa riang. Akh, udahlah... masa-masa indah itu hanya tinggal kenangan, yang gak bakal bisa kembali lagi. Makanya, ngeliatin Andra ama temen-temennya maenin ni permainan, bikin kenangan saya kembali ke masa-masa kecil dulu.
     Ok, kita kembali ke pembahasan utama, "Permainan Ular Naga". Permainan Ular Naga adalah suatu permainan yang dimainkan secara berkelompok yang biasa dimainkan anak-anak di luar rumah di pagi hari, sore hari dan tidak jarang dimainkan pada malam hari. Tempat bermainnya bisa dimana saja. Di teras rumah, di tanah lapang atau halaman rumah yang agak luas. Dan yang bikin lebih menarik lagi, apabila permainan ini dimainkan di bawah cahaya bulan purnama, riuh rendah tawa canda anak-anak menjadi penghias indahnya malam di bawah sinar sang purnama. Adapun jumlah pemainnya berkisar sekitar 5 - 10 orang, bisa juga lebih, anak-anak umur 5 - 12 tahun (usia TK hingga SD).

Cara Bermain Permainan Ular Naga
     Anak-anak berbaris bergandengan tangan sambil memegang pundak teman yang berada di depan. Seorang anak yang lebih besar, atau yang paling besar diantara anak-anak yang lain berperan sebagai "Induk". Kemudian dua anak lagi yang cukup besar, yang memiliki tinggi yang sama, bermain sebagai "Gerbang", dengan berdiri berhadapan dan saling berpegangan tangan di atas kepala. Induk dan gerbang biasanya dipilih dari anak-anak yang tangkas berbicara, karena salah satu daya tarik permainan ini terletak pada dialog yang mereka lontarkan.
    Barisan akan bergerak melingkar kian kemari layaknya Ular Naga yang sedang berjalan-jalan mencari mangsa dan mengitari gerbang yang berdiri di tengah-tengah areal permainan, teras atau tanah yang lapang. Sambil berjalan berputar kian kemari, mereka menyanyikan lagu permainan ini :
"...Ular naga panjangnya bukan kepalang,
berjalan-jalan selalu kian kemari.
Umpan yang lezat itulah yang dicari,
inilah dia yang paling belakang..."
   Kemudian sambil menerobos gerbang, barisan mengucap "kosong...kosong...kosong..." berkali-kali hingga seluruh barisan lewat, dan mulai lagi menjalar dan menyanyikan lagu di atas. Demikian berlaku hingga dua atau tiga kali. Pada kali yang terakhir menerobos gerbang, barisan mengucap "isi...isi...isi..."berkali-kali, hingga akhir barisan dan anak yang terakhir di buntut ular ditangkap (gerbang menutup dan melingkari anak terakhir dengan tangan-tangan mereka yang masih berkait).
    Pada saat-saat tertentu sesuai dengan lagu, Ular Naga akan berjalan melewati gerbang. Pada saat-saat terakhir, ketika lagu habis, seorang anak yang berjalan paling belakang akan ditangkap oleh gerbang, dan masuk ke dalam perangkap tangan. Setelah itu, si induk dengan semua anggota barisan yang berderet di belakangnya akan berdialog dan berbantah-bantahan dengan kedua gerbang perihal anak yang masuk perangkap tangan gerbang. Seringkali dialog dan perbantahan ini berlangsung seru dan lucu, sehingga anak-anak ini saling tertawa. Sampai pada akhirnya, si anak yang tertangkap disuruh memilih di antara dua pilihan, dan berdasarkan pilihannya, ditempatkan di belakang salah satu gerbang. Kira-kira seperti inilah dialognya :
Induk          :    "Mengapa anak saya ditangkap ?"
Gerbang      :    "Karena menginjak-injak pohon jagung..."
Induk          :    "Bukankah dia sudah kuberi (bekal) nasi ?"
Gerbang      :    "Nasinya sudah dihabiskan "
Gerbang 2   :    (menyeletuk) "Anaknya rakus sih... "
Induk          :    "Bukankah dia membawa obor ?"
Gerbang      :    "Wah, obornya mati tertiup angin... "
Induk          :    "Bukankah .... ?"
Gerbang      :    "...", dan seterusnya...
    Sampai akhirnya si induk menyerah dalam perbantahan. Kemudian, untuk meyakinkan kokohnya penjara yang dihadapinya, si induk biasanya menanyakan:
(Sambil menepuk/menunjuk salah satu lengan si gerbang)
Induk          :    "Ini pintu apa ?"
Gerbang      :    "Pintu besi !"
Induk          :    "Yang ini ?", (menepuk tangan yang lain)
Gerbang      :    "Pintu api !"
Induk          :    "Ini ?" (menunjuk tangan yang lain lagi)
Gerbang      :    "Pintu air !",
Induk          :    "Dan ini ?" (menunjuk tangan yang terakhir)
Gerbang      :    "Pintu duri !"
Putus asa, yakin bahwa penjara tidak bisa ditembus, si induk kemudian menoleh kepada anaknya, seraya bertanya :
Induk          :    "Kamu mau pilih bintang atau bulan ?"
Anak           :    "Bintang !"
Dan kemudian anak yang malang itu ditempatkan di belakang salah satu gerbang, yang digelari bintang. Permainan mulai lagi, diulang lagi...
     Permainan akan dimulai kembali setelah terdengarnya nyanyian lagi, Ular Naga kembali bergerak dan melewati gerbang, dan akan ada lagi seorang anak yang ditangkap oleh gerbang. Dialog dan perbantahan terjadi lagi. Demikian berulang-ulang berlangsung terus, hingga induk akan kehabisan anak dan permainan selesai. Atau, anak-anak bubar dipanggil pulang orang tuanya karena sudah larut malam.