G30S PKI (1984 - 1996)

     Film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI adalah sebuah judul film dokumenter Indonesia terbesar sepanjang masa, yang untuk pertama kalinya dirilis pada tahun 1984. Film ini diproduksi oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN) yang disutradarai dan ditulis oleh sineas kenamaan Indonesia Arifin C. Noer. Adapun yang bertindak sebagai produser dalam film ini adalah G. Dwipayana. Banyak aktor dan aktris top Indonesia pada masa itu yang dilibatkan dalam proyek film kolosal ini, semisal Amoroso Katamsi yang berperan sebagai Mayjen Soeharto, Umar Kayam yang berperan sebagai Presiden Soekarno, dan Syubah Asa yang berperan sebagai D.N Aidit. Kemudian ada juga Bram Adrianto yang berperan sebagai Letkol Untung, aktris kawakan Ade Irawan yang berperan sebagai Ny. A.H Nasution atau yang akrab dipanggil Buk NasKeke Tumbuan yang berperan sebagai Ade Irma Suryani NasutionPramaya Padmodarmaya berperan sebagai Letjen. Ahmad Yani, dan Wawan Wanisar yang berperan sebagai Lettu Pierre Andreas Tendean
     Film ini sendiri diproduksi selama dua tahun dengan anggaran yang sangat besar pada masa itu, yakni sebesar Rp. 800.000.000,-. Film ini disponsori oleh Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto dan dibuat berdasarkan versi resmi menurut pandangan pemerintah orde baru sebagai pemerintahan yang berkuasa pada masa itu. Referensi film ini bersumber dari buku Peristiwa Gerakan 30 September atau G30S yang ditulis oleh Prof. DR. Nugroho Notosusanto, yang dibantu oleh tim penulis antara lain Amrin Imran, Rokhmani Santoso, Sutopo Sutanto, dan Suranto Sutanto, yang menggambarkan secara detail peristiwa berdarah ini dengan tujuan kejam melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang berkuasa pada masa itu, yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia atau PKI.
     Film ini menggambarkan masa menjelang kudeta dan beberapa hari setelah peristiwa berdarah itu terjadi. Pada masa itu, dalam keadaan kekacauan ekonomi Indonesia yang sangat teramat parah, 6 (enam) orang Jenderal yang telah diisukan membentuk sebuah gerakan yang diberi nama Dewan Jenderal, diculik dan dibunuh oleh PKI, dan konon kabarnya gerakan ini adalah permulaan dari aksi untuk memulai kudeta terhadap pemerintahan Presiden Soekarno. Pada masa itu, muncullah Mayjen Soeharto sebagai tokoh yang menghancurkan dan memberantas gerakan kudeta tersebut hingga sampai ke akar-akarnya. Film ini juga menampilkan pergantian rezim Pemerintahan Orde Lama di Indonesia dari Presiden Soekarno ke Mayjen Soeharto sebagai pemimpin tertinggi dalam Pemerintahan Orde Baru. Film ini juga menggambarkan secara rinci bahwa gerakan G30S sebagai gerakan yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan yang telah direncanakan setiap langkahnya dengan sangat terperinci. Selain itu, film ini juga menggambarkan suasana sukacita antek-antek PKI dalam penggunaan kekerasan yang berlebihan dan penyiksaan yang keji terhadap para Jenderal.
     Film ini adalah film dalam negeri pertama yang dirilis dan meraih sukses secara komersil, yang dinominasikan untuk tujuh penghargaan dalam Festival Film Indonesia pada tahun 1984. Pemerintahan Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto kala itu memerintahkan satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu TVRI, untuk menayangkan film ini setiap tahun pada setiap tanggal 30 September malam. Film ini juga diperintahkan menjadi tontonan wajib bagi siswa sekolah di Indonesia, walaupun film ini banyak memperlihatkan adegan-adegan yang penuh kekerasan dan penyiksaan secara berlebihan. Bahkan pada saat stasiun-stasiun televisi swasta mulai bermunculan, juga dikenai kewajiban yang sama, untuk menayangkan film ini setiap tahunnya. Peraturan ini kemudian dihapuskan sejak jatuhnya rezim orde baru tahun 1998. Sejak saat itulah  film ini menjadi kurang diminati dan tidak pernah lagi diputar di stasiun televisi di Indonesia. Meskipun aspek artistik film ini tetap diterima dengan baik, namun kekeliruan sejarahnya masih rancu, dan telah menuai banyak kritik dari berbagai pihak. Hmmm... Ya lahhh setuju... ^^