Keluarga Cemara (1996 - 2005)


     Melihat tayangan serial televisi buatan anak negeri di masa sekarang, baik itu sinetron, FTV ataupun mini seri, rata-rata sungguh sangat membosankan dan menjemukan. Banyak sekali para sutradara dan produser di masa kini yang membuat tayangan hanya sekedar untuk mengejar rating dan terkesan ikut-ikutan agar tayangan sinetron yang diproduksinya banyak ditonton oleh pemirsa televisi. Seringkali alur ceritanya pun menjadi terlalu mengada-ada dan terkesan dilebih-lebihkan, semisal banyaknya akting banjir air mata, fitnah yang menzolimi orang baik, bahkan saling memaki antar pemain dalam suatu cerita sudah menjadi suatu kewajaran yang dipaksakan untuk dimaklumi oleh pemirsa televisi. Hal ini terjadi akibat suatu pola pikir praktis dimana apabila rating sinetron yang ditayangkan naik, maka ratusan bahkan ribuan episode siap digarap tanpa memperhatikan kualitas akhir dari sinetron yang mereka garap itu sendiri. Dari segi pemainnya pun juga terlihat keprihatinan yang kental, dimana para sineas masa kini mulai mengenyampingkan pemain dengan wajah asli pribumi, dan mereka lebih mengutamakan para pemain karbitan yang minim kemampuan, tetapi memiliki wajah indo alias blesteran asing. Beda sekali dengan tayangan pada masa-masa jadul dulu, yang lebih mengutamakan kualitas dari para sineas penggarap cerita, alur dan jalan cerita, serta para aktor dan aktris yang memiliki akting yang bagus dan dapat diandalkan. 
     Beberapa tahun lalu di era tahun 1996, sebagian dari kita mengenal beberapa tayangan televisi yang edukatif dan layak dijadikan tontonan wajib para keluarga yang ada di Indonesia pada masa itu. Salah satunya yang kita kenal adalah Serial Keluarga Cemara. Serial keluarga arahan sineas ternama Arswendo Atmowiloto ini pada awalnya ditayangkan di Stasiun Televisi RCTI pada tahun 1996 hingga tahun 2002, kemudian sempat dilanjutkan oleh TV7 yang sekarang berubah menjadi Trans7 hingga serial ini tamat pada tahun 2005. 
     Pemain utama dari serial keluarga ini adalah aktor ternama Adi Kurdi yang memerankan tokoh Abah. Diceritakan dalam serial ini bahwa abah adalah  seorang mantan pengusaha kaya raya yang jatuh miskin, lalu menjalani profesi sebagai tukang becak, atau apapun pekerjaan yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Lalu ada aktris kawakan Novia Kolopaking yang berperan sebagai Emak, tokoh seorang istri yang sabar dan setia serta selalu membantu abah dalam mencari nafkah dengan membuat kerupuk opak, makanan khas Sunda yang terbuat dari ubi kayu. Namun posisi Novia Kolopaking sebagai pemeran tokoh emak kemudian digantikan oleh aktris cantik Anneke Lutfiah Putri. Anak tertua dari abah dan emak bernama Euis yang diperankan oleh Ceria Hade. Euis adalah tokoh anak pertama dari pasangan abah dan emak yang pernah merasakan kehidupan mewah sebagai anak dari pengusaha kaya raya. Kemudian ada tokoh Ara yang diperankan oleh Anisa Fujianti. Tokoh Ara diceritakan sebagai anak yang pintar dan rajin, yang selalu tabah menghadapi ledekan teman-teman sekolahnya. Dan tokoh si bungsu Agil yang diperankan oleh Pudji Lestari, adalah tokoh anak bungsu yang memiliki karakter paling polos dan lugu dari keluarga kecil ini. 
     Banyak hikmah kehidupan yang dapat diambil dari kisah Serial Keluarga Cemara ini. Mulai dari sang abah yang tidak pernah pantang menyerah dan malu dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarga walaupun harus menjadi tukang becak, yang berkubang dengan peluh dan terik matahari. Lalu ada emak, yang tetap setia kepada abah walaupun sudah jatuh dari posisi terhormatnya sebagai wanita yang kaya raya, namun tanpa malu emak juga ikut membantu abah dalam menghidupi kebutuhan keluarganya dengan berjualan opak. Di balik hubungan yang mesra antara abah dan emak, terdapat juga hubungan yang harmonis penuh kasih sayang antara orang tua kepada anak-anaknya, yang dicontohkan dalam serial keluarga ini. Dalam serial ini, diceritakan bagaimana anak-anak abah dan emak memiliki pengertian yang tinggi kepada kedua orangtuanya. Mereka tidak pernah meminta yang macam-macam, dan sadar akan kondisi kedua orang tuanya yang sulit, yang harus bekerja keras dalam memenuhi nafkah keluarga. 
     Film serial keluarga ini diadaptasikan dari sebuah novel dengan judul yang sama, "Keluarga Cemara" karangan sang sutradara serial ini sendiri Arswendo Atmowiloto. 

     Cerita yang ditampilkan dalam Serial Keluarga Cemara ini sangat natural sekali dan tidak terkesan dibuat-buat. Kekuatan karakter dari setiap tokoh yang diperankan telah mampu membawa penonton untuk bisa dengan mudah menangkap pesan moral yang terselip di dalam setiap episode yang ditayangkan. Sungguh di masa sekarang ini, banyak pemirsa televisi yang sangat rindu melihat tayangan televisi semisal Serial Keluarga Cemara ini. Berbeda dan sangat kontras sekali dengan kondisi sinetron yang ada di layar televisi di masa sekarang, yang hanya mengobral kisah percintaan semata dan sangat minim dengan pesan moral yang penuh hikmah. Serial Keluarga Cemara ini layak untuk diputar kembali untuk bisa menjadi bahan perenungan setiap keluarga yang ada di Indonesia, agar lebih mengerti betapa dalam arti penting sebuah Keluarga, karena pada hakikatnya Keluarga adalah Sebuah Harta yang Paling Berharga dalam kehidupan kita. Setujuuu...^^