Permainan Tradisional Meriam Bambu

     Ini dia nih permainan anak-anak 90’an yang sering bikin galau emak-emak rumah tangga. Gimana nggak, minyak tanah, garam tiba-tiba bisa berkurang dengan drastisnya dari stok dapur, padahal gak ada tuyul di rumah. Usut punya usut ternyata ada tuyul kepala itam yang ngembatnya, yaitu anak laki-lakinya sendiri yang lagi keranjingan maenin permainan meriam bambu. Hadddehhh...
     Gitu juga yang terjadi dengan saya waktu masih duduk di bangku SD. Asyik maen meriam bambu, ambil minyak tanah di dapur, sering gak pake bilang-bilang ke emak, jadinya emak heboh sendiri di rumah, hahaha..., LOL... Trus kalo udah maen, bisa lupa waktu, gak pake makan lagi, sampe emak bilang : “emang kamu maen gak pake pulang lagi, cukup minum minyak lampu ?”... Hahaha... Hhhh..., itulah sekelumit cerita misteri ilangnya minyak tanah di dapur emak, gara-gara musim maen meriam bambu udah datang, lucu dan menggelikan.
     Ok, kita lanjut lagi... Dulu zaman saya SD dulu kalo udah menjelang masuk bulan Puasa Ramadhan, maka akan muncul beberapa permainan musiman yang acapkali kami maenkan bersama, salah satunya ya Permainan Meriam Bambu ini. Kami biasa membuatnya sendiri. Batang bambu biasanya kami ambil di tanah seorang warga yang bernama Mbah Kusen. Lalu bersama beberapa orang teman saya, kami membawa batang bambu itu pulang, dan membaginya sama rata untuk kami jadikan meriam bambu. 
     Cara membuatnyapun sangat mudah. Biasanya kami membuatnya dari batang bambu yang dipotong-potong dekat pada bagian ruasnya (sekat di dalam batang bambu). Satu batang meriam panjangnya ± 5 ruas bambu. Setelah bambu dipotong sepanjang yang dibutuhkan, kemudian pecahkan (dari dalam melalui ujung bambu) ruas-ruas yang jadi pemisah batang bambu dengan tujuan agar batang bambu menjadi plong tanpa sekat. Ketika memecahkan ruas bambu ini emang membutuhkan sedikit kesabaran kita agar didapatkan hasil yang bagus.


     Setelah sekat bambu dipecahkan, beri lubang kira-kira bisa muat masuk jari tangan, pada salah satu ujung bambu tersebut (bagian hulu), yang berjarak ± 10 cm dari ujung batang bambu. Setelah itu masukkan minyak tanah secukupnya melalui lubang tersebut, jangan lupa tambahkan sedikit garam sebagai pemicu pembakaran dalam batang bambu. Dan yang berperan sebagai sumbunya (gombal), masukkan sehelai kain kira-kira sepanjang jengkal tangan (yang digulung-gulung) ke dalam lubang tersebut. Setelah semuanya dirasakan oke, letakkan bambu di atas tanah dengan bertelakan alas, dengan posisi bagian moncong meriam (bagian hilir) harus lebih tinggi daripada bagian lubang sumbu (bagian hulunya). Siapkan juga sebatang kayu sebagai sumbu pemicu, dan sebuah obor/pelita sebagai sumber api.

     Ambil kayu yang kita gunakan sebagai sumbu pemicu api tadi, beri minyak tanah pada bagian ujung kayu tersebut, arahkan pada api yang terdapat pada obor/pelita yang telah disiapkan. Arahkan kayu berapi tadi pada lubang sumbu yang terdapat pada meriam bambu. Biasanya, karena pancingan kayu berapi tadi, akan ada reaksi sambaran api dari lubang sumbu tersebut, yang akan menghasilkan sedikit bunyi gelegak yang bersumber dari lubang sumbu tersebut. Hembus lubang sumbu beberapa saat, kemudian arahkan kayu berapi tersebut ke arah lubang sumbu, hingga terjadi reaksi yang sama seperti sebelumnya yaitu berupa  sambaran api dari lubang sumbu tersebut. Hembus kembali lubang sumbu, hingga terdengar bunyi gelegak yang sama seperti sebelumnya. Pancing lagi lubang sumbu, kemudian hembus kembali hingga asap di dalam batang meriam menjadi sedikit. Setelah itu barulah arahkan kayu berapi tadi  ke arah lubang sumbu, dan akan terjadi reaksi ledakan yang kuat yang keluar dari moncong meriam bambu tersebut. Satu hal yang harus diingat adalah ketika kita menghembus ke arah lubang sumbu tersebut, kita harus berhati-hati karena terkadang akan ada semburan api yang mendadak muncul dari lubang sumbu dan bisa menyambar mata kita, dan ini sangat berbahaya. Maka dari itu, berhati-hatilah ketika kita menghembus ke arah lubang sumbu meriam bambu tersebut.
Meski demikian permainan meriam bambu ini  tidak seberbahaya seperti main petasan, sebab meriam bambu ini bahan bakarnya hanya menggunakan minyak tanah. Selain itu permainan ini tergolong permainan yang murah meriah tidak seperti petasan yang harganya puluhan ribu rupiah, hingga bisa mencapai harga jutaan rupiah.
     Biasanya, permainan meriam bambu ini dilakukan di tempat terbuka yang jauh dari pemukiman warga, sebab bunyi ledakan meriam ini kuat dan bisa membuat orang terkejut. Oleh karena itu, setiap orang yang menyaksikan permainan ini terpaksa harus menutup kedua telinganya kerasnya bunyi meriam ini. Biasanya, permainan meriam bambu ini rutin dilakukan oleh kami di sore hari sambil menunggu tibanya waktu berbuka puasa. 
Menjelang azan maghrib dan hendak masuk waktu berbuka puasa, kami yang bermain meriam bambu pulang ke rumah masing-masing, dan saling berjanji akan bermain lagi esok hari. Sungguh mengasyikkan... ^^