Bayi Ajaib (1983)

     Dulu di sekitar era tahun 80-an, ada sebuah film horor Indonesia yang menakutkan dan bikin bulu kuduk merinding kalo kita nontonnya. Sebut aja judul film itu adalah "Film Bayi Ajaib", yang sempat menjadi salah satu judul film yang paling dicari–cari oleh banyak penggemar film horor di Indonesia masa itu. 
     Sebenarnya film ini merupakan adaptasi dari "Film The Omen", yang sempat merajai film-film bergenre horor di akhir dekade tahun 70-an. Sementara "Film Bayi Ajaib" terfokus pada tokoh utamanya yaitu sepasang suami istri yang bernama Pak Kosim yang diperankan oleh aktor kawakan Muni Cader, dan sang istri Sumi yang diperankan oleh aktris Rina Hassim. Film ini bercerita tentang kisah Pak Kosim yang sangat  berambisi menjadi lurah di desanya, setelah ia mengetahui bahwa sungai di desanya itu banyak mengandung batu intan yang sangat berharga, sehingga membuatnya menggunakan segala daya dan upaya agar ambisinya itu dapat tercapai, salah satu caranya adalah dengan membayar anak buahnya agar menghasut warga untuk memilihnya. Dalam perebutan kekuasaan ini, Pak Kosim memiliki saingan yaitu Pak Dorman yang diperankan oleh aktor W.D Muchtar, seorang warga keturunan Portugis yang menggunakan arwah nenek moyangnya untuk menjatuhkan Kosim. Dorman memohon kepada arwah Alberto Dominique, nenek moyangnya yang dikubur di daerah itu agar membantu ambisinya.
     Arwah nenek moyang Dorman pun mulai mengincar istri Pak Kosim yang tengah mengandung anak mereka. Suatu ketika, Sumi yang hendak pulang ke rumahnya tiba–tiba terjatuh ke dalam sebuah lubang kuburan, dan bertemu dengan tengkorak hidup yang mengincar janinnya. Janin milik Sumi kemudian digerakkannya dari perut berpindah ke punggung. Inilah awal mula dari serentetan malapetaka yang akan menghantui kehidupan pasangan suami istri tersebut.
     Hingga setelah sampai masanya, Sumi melahirkan bayinya dibantu oleh seorang dukun kampung yang diperankan oleh Wolly Sutinah alias Mak Wok. Kemudian bayi pasangan Pak Kosim dan Sumi ini diberi nama Didi. Tahun berganti tahun, Didi yang telah beranjak remaja (yang diperankan oleh Rizwi Ibrahim) tumbuh menjadi anak yang luar biasa nakalnya. Tanda–tanda bahwa Didi bukan anak sembarangan pun semakin terlihat. Didi tidak bisa disunat, dan setiap kali mendengar azan maka ia akan langsung menutup telinga dan mengerang kesakitan. Dan apabila ada orang yang berusaha mengganggu Didi, maka orang itu akan langsung mengalami kecelakaan. Nah, adapun klimaks dari film ini adalah ketika Didi berusaha disembuhkan oleh sesepuh desa lewat do'a-do'a yang dipanjatkan bersama-sama oleh seluruh warga desa tersebut. Hingga akhirnya Didi dapat disembuhkan dari pengaruh roh jahat dan kembali pada kondisi seperti sedia kala yaitu seorang remaja yang baik hati. 
     Film jadul ini adalah produksi dari PT. Empat Gajah Film pada tahun 1983, yang diproduseri oleh Wirjaatmadja Ngadiman, dan disutradarai oleh Tindra Rengat. Di zamannya, film ini terbilang sebagai film yang laku keras dan telah banyak ditonton oleh penontonnya di seantoro Indonesia. Walaupun trik animasi kameranya masih jauh dari kata bagus, namun cukup sepadanlah bila dibandingkan dengan zaman pembuatannya yang kala itu yang masih jauh dari kata Digital Video Editing, jauh banget booo... Tapi okelah, okelaaahhh... Mengingat jalan ceritanya emang rada menyeramkan dan bikin bulu kuduk merinding. Iya kaaannn ?... Setujuuu... ^^