Warkop DKI (Dono Kasino Indro) bagian 2


     Aktifitas ngelawak dari panggung ke panggung dan ngobrol seru di acara Radio Prambors FM telah menjadi aktifitas rutin anak-anak WARKOP DKI pada saat itu. Hal ini membuat para anggota WARKOP menjadi semakin matang di dunia hiburan lawak, hingga mereka kemudian memutuskan untuk mulai membuat film-film komedi sebagai media baru dalam mencari nafkah. Dari media film inilah para personel Warkop mulai meraup kekayaan yang berlimpah. Dengan honor Rp. 15.000.000,- per film untuk satu grup, mereka pun hidup dalam keberlimpahan materi. Betapa tidak, nominal yang mereka dapatkan sebagai honor bermain film adalah nilai yang sangat besar di masa itu. Belum lagi di tiap tahunnya mereka membintangi minimal 2 judul film sekaligus, menempatkan mereka dalam deretan komedian tajir dan terkenal pada masanya. Dan pada era tahun 80-an hingga tahun 90-an adalah masa-masa emas mereka, dimana film-film mereka selalu diputar sebagai film menyambut Hari Raya Idul Fitri di hampir semua bioskop utama di seluruh Indonesia.
     Pada era bermunculannya televisi swasta di Indonesia dan menurunnya jumlah produksi film layar lebar di tanah air, WARKOP DKI pun lantas mulai membuat serial televisi sendiri, yang bekerjasama dengan stasiun televisi yang ada pada saat itu. Proses produksi serial televisi ini tetap dipertahankan selama beberapa tahun kendati Kasino telah tutup usia pada tahun 1997, dan menyusul dengan meninggalnya Dono pada tahun 2001, maka praktis Indro menjadi satu-satunya personel WARKOP DKI yang harus tetap bertahan dan meneruskan perjuangan dua rekannya di atas. Sedangkan anggota lain, Nanu sudah meninggal pada tahun 1983, karena penyakit liver yang sudah lama dideritanya, dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta.
     Kelebihan WARKOP DKI bila dibandingkan dengan grup lawak lain di tanah air, terletak pada tingkat kesadaran intelektualitas para anggotanya. Hal ini wajar saja terjadi, sebagai akibat dari kondisi dimana sebagian besar anggotanya adalah mantan mahasiswa yang bertitel sarjana. Maka wajar saja jika mereka sadar betul akan perlunya profesionalitas dalam berkarir dan pengembangan diri secara menyeluruh bagi kelompok lawak mereka. Hal ini dapat dilihat dari keseriusan mereka dalam membentuk staf yang tugasnya membantu mereka dalam mencari bahan lawakan. Salah satu staf mereka yang kelak akan mengikuti jejak mereka sebagai komedian adalah Tubagus Dedi Gumelar alias Miing, yang kelak kemudian menjadi pentolan sebuah grup lawak Bagito singkatan dari Bagi Roto, bersama adiknya Didin dan rekannya Unang.
Hmmmm... Kereeennn... ^^

...nyambung ke bagian 3 yaaa... ^^