Permainan Gasing

     Ada sebuah permainan tertua di dunia yang bisa kita temukan di berbagai situs arkeologi dunia dan masih bisa dikenali hingga sekarang. Tahukah sobat sekalian permainan apakah itu ?... Ya, sebut aja Permainan Gasing namanya. Permainan gasing adalah sebuah permainan yang berputar pada porosnya, dan memiliki keseimbangan yang bertumpu pada suatu titik. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, permainan gasing juga acapkali dimainkan pada acara-acara adat dan terkadang digunakan juga untuk ajang berjudi dan meramal nasib. Biasanya permainan gasing dilakukan di pekarangan rumah dengan kondisi tanah yang keras dan datar. Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu dengan jumlah pemain yang bervariasi sesuai dengan kebiasaan yang ada di daerah masing-masing.
     Biasanya gasing terbuat dari bahan kayu yang diukir dan dibentuk, serta diwarnai hingga menjadi bentuk-bentuk yang menarik. Namun di masa sekarang, permainan gasing sudah memasuki era yang lebih modern dengan bentuknya yang bermacam-macam yang terbuat dari bahan plastik.  
Permainan Gasing Era Modern
     Ada sejumlah daerah di Nusantara yang memiliki istilah penyebutan yang berbeda-beda untuk permainan yang satu ini. Masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta biasa menyebutnya dengan istilah Gangsing atau Panggal. Kalo masyarakat di Lampung biasa menamakannya dengan istilah Pukang. Begasing adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat di Kalimantan Timur. Sedangkan di daerah Maluku, masyarakat disana biasa menyebutnya dengan istilah Apiong. Lain lagi halnya dengan masyarakat di Nusa Tenggara Barat, permainan ini biasa disebut dengan nama Maggasing. Bagi sebagian masyarakat di Pulau Sumatera semisal di Sumatera Barat, Tanjung Pinang dan Kepulauan Riau, Jambi, dan Bengkulu, biasa menyebut permainan ini dengan istilah Gasing. Nama Maggasing atau Aggasing juga dikenal oleh masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Sedangkan masyarakat Bolaang Mongondow di daerah Sulawesi Utara mengenalnya dengan istilah Paki. Kalo orang-orang di Jawa Timur biasa menyebut permainan gasing dengan nama Kekehan. Sedangkan di Yogyakarta, gasing disebut dengan dua nama berbeda, yaitu Gangsingan jika gasing itu terbuat dari bambu, dan disebut Pathon jika gasing itu terbuat dari kayu. 
Permainan Gasing Tradisional dari Kayu
     Permainan gasing dilakukan dengan cara memutar gasing menggunakan tali gasing, yang pada umumnya terbuat dari bahan nilon, sedangkan tali gasing tradisional terbuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing yang digunakan pun berbeda-beda, bergantung pada panjang lengan orang yang memainkannya. Cara memainkannya pun rada-rada sulit bagi yang belum terbiasa memainkannya, dimana gasing dipegang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang tali. Kemudian lilitkan tali pada gasing, mulai dari bagian ujung kepala gasing hingga pada bagian badan gasing. Lilit erat-erat tali sambil memutar pada badan gasing hingga tali hanya menyisakan sedikit bagian untuk pegangan pada saat melemparkannya. Lalu lemparkan gasing ke arah permukaan tanah dengan posisi bagian kaki gasing menghadap ke tanah, dan bagian kepala gasing ke arah atas. Lempar dan tarik tali yang melilit sekencang-kencangnya. Akibat dari lemparan tersebut, gasing akan berputar di atas tanah, hingga berhenti dengan perlahan-lahan jika kekuatan putarnya telah habis.
     Gerakan gasing berputar berdasarkan Efek Giroskopik, dimana pada awalnya gasing berputar terhuyung-huyung dulu untuk beberapa saat hingga interaksi dari bagian kaki gasing terhadap permukaan tanah menjadi stabil dan bisa membuatnya tegak sempurna. Setelah gasing berputar tegak untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik yang terjadi akan berkurang sedikit demi sedikit hingga pada akhirnya bagian badan dari gasing tersebut akan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah.
     Hingga kini, permainan gasing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan masyakat di Kepulauan Riau rutin menyelenggarakan kompetisi permainan gasing dengan hadiah yang sangat menggiurkan. Acara yang rutin dilaksanakan tiap tahunnya ini, menjadi agenda rutin dari Dinas Kebudayaan, Seni dan Pariwisata setempat. Sementara di Demak, biasanya masyarakat setempat memainkan gasing di saat pergantian musim hujan ke musim kemarau. Sedangkan masyarakat di Bengkulu biasanya akan ramai-ramai memainkan gasing di saat Perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram pada tiap tahunnya. Begitchyuuuhhh... ^^